Monthly Archives: December 2011

Sang Pertapa

Bayangan dalam cermin itu bukan aku. Tapi aku melihat diriku dalam dirinya. Tangan besarnya ingin meraihku. Aku menyambutnya dari balik kaca.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“Sang Pertapa,” sahutnya.

“Bisakah aku meraihmu?”

“Yang harus kau lakukan hanyalah memecahkan cermin ini, Sayang.”

Ragu sejenak. Mataku menatap mata hijaunya. Ia tersenyum. Kemudian aku mengayunkan kepalan tanganku ke arah cermin. Cermin pecah. Darah berceceran. Ia kembali tersenyum. Perlahan ia melangkah keluar. Kaki telanjangnya berjalan di atas pecahan kaca, dan ia meraih tanganku. Mengecap goresan luka yang mengalirkan darah segar.

“Bukankah darah ini begitu indah?” gumamnya.

Ia menjilat dan menghisap luka itu, menikmati sakit yang menyengat tanganku. Aku meringis, tapi membiarkan ia melakukan itu. Aku menginginkannya. Aku tahu aku menginginkan dia. Mata itu, wajah itu, rambut itu, dan tangan besar itu, adalah sosok yang bersemayam di dalam pikiranku. Bertahun-tahun lamanya.

Malam itu juga aku bercinta dengan jiwanya. Seperti sukma yang telah lama saling merindukan. Menantang kenyataan yang kemudian menampar. Lupa akan takdir yang menyertai, bahwa surga itu datang membawa neraka bersamanya.

Ketika fajar datang kami belum juga mereda. Mengurai lilitan benang merah yang membelit sukma. Menunggu siang datang untuk mengusaikan kami. Dan saat matahari itu beranjak naik, dia pun kupaksa pergi. Meninggalkan jejak merah darah yang berceceran di lantai. Kepada cermin pecah itu ia tak akan kembali lagi. Kenyataan telah memeluknya pulang. Dan sejak ia melangkahkan kaki telanjangnya ke arahku, saat itulah aku sedang melepasnya pergi.

***

-August.2011-


Ein Mann in den Dachboden

Ich denke, ein Licht sehe ich strahlend. Dann, folge ich das Licht in den Dachboden. Ein Mann sitzt auf dem Couch. Er liest. Ich gehe ins Zimmer rein. Dann, hort auf zu lesen, und sieht mich an.

“Hallo, wie heißen Sie?” frage ich.

“Ich heiße Einsiedler,” sagt er.

Einsiedler? Das ist komisch. Ich vermute, er ist ein Licht.

“Ach, bitte duzen wir uns,” sagt er, “Und du? Wie heißt du?”

“Mein Nachname ist Licht,” anworte ich.

“Dein Nachname ist Licht? Licht? …das ist sehr lustig.”

“Warum?”

“Ach,.. darum,” anwortet er mit einem Lacheln an seinem Gesicht.

“Was machst du hier auf dem Dachboden?” frage ich.

“Ich lese.”

“Ach, interessant,” sage ich. “Hmm.. es ist sehr komisch. Ich fühle mich, als dich ob schon lange kenne.”

“Ach, dank Liebenswert,” sagt er.

Es ist hell im Dachboden. Dann, der Himmel wendet sich rot zu.

“Ich soll zürück gehen, und soll arbeiten,” sagt er.

“Ich weiß. Du bist ein Adler im Himmel. Fliege fort. Fliege fort. Absolvier deinem Traum!”

“Aufwiedersehen,” sagt er.

Dann fliegt er. Ich bin allein im Dachboden jetzt. “Ach, ich muß meinen Traum jetzt absolvieren,” ich murmele mit einem Lächeln auf meinem Gesicht. Danach, gehe ich nach unten.

***

-July.2011-


The Souls in Cocytus

Me as Dante, and my animus Jermain as Virgil.

Hail to Dante Alighieri and Gustave Dore for such an inspiration.

Reference: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Gustave_Dore_Inferno32.jpg

-November.2010-


The Souls in Limbo

Me and my animus, Akseli. World is a Limbo for us…

-November.2010-


Beatrice

Teriak aku memanggil namanya, “Beatriiiiiice!”, agar ia turun dari loteng. Tapi sungguh dia sudah menjadi tuli. Demi Tuhan, ia tak mau turun. Atas nama kewarasan, ia tak mau turun!

Punggung ini lelah karena bekerja mencari uang, paling tidak turunlah kamu saat aku memanggilmu, Beatrice. Sudah sepatutnya kau membantuku.

“Untuk apa aku datang padamu, jika hanya kematianku lah yang kau inginkan dariku, Mathilda?”, sahutnya dari ujung atas tangga sana.

“Lagi-lagi kau bicara soal kematian, kau pikir aku ingin membunuhmu? Otakmu itu yang sudah tidak waras, kamu tahu itu? Aku tidak pernah mengerti dirimu.”

“Apa yang menurutmu waras dan tidak waras berbeda dengan sudut pandangku, Mathilda. Itu saja”, ujarnya dengan mata nanar. Lalu ia berbalik, hendak kembali ke kamarnya.

Amarahku membuncah, dan aku berteriak ke punggungnya, “Suatu hari kau akan mati membusuk di atas sana, kamu tahu itu Beatrice??!!” Dia hanya terdiam, tak bergeming. Punggungnya yang tak bernalar itu.

Berbalik dia menatapku tajam. Aku tahu dia pun marah. “Dan tahu kah kau Mathilda?”, akhirnya ia angkat bicara, “Saat kau tua dan mati, kau akan mati. Tapi saat aku mati, aku akan hidup. Aku akan hidup untuk seterusnya!”

Beatrice, dia memang tidak waras.

-April.2011-


Jiwa Tanpa Nalar

Perlahan darahku tersucikan dari bisamu

Waktu kutapakkan kaki di surga itu

Kepada Matahari kujejakkan jiwaku

Tatkala pendar gelapmu mengabur dariku

 

Seperti tak bermata aku menatap nanar

Dalam gelapnya cahaya hatiku tersasar

Terus ku menyusuri jejak Sang Nasar

Bagai sebuah jiwa tanpa nalar

 

Sudah kutambatkan hidup padamu yang terlarang

Dan biarlah kejatuhan itu kembali berulang

Karena kepadamu ingin ku segera pulang

Meski akhirnya akal sehat harus kubuang

 

-March.2011-


Son of Cain

I find myself in the mouth of Lucifer

Staring at the dark so i get blind

As my soul lifted from it’s skin

A revelation to a sacred doom

I sacrificed myself to the Dark Sun

 

Dear Son of Cain, i despise you well

I kiss your Self under the Great Wheel

Looking for an end of all things

 

-March.2011-


Ave Lucia, I’ve Cried..

Sweet Light, to you i cry..

without your guidance i shall be dead here on this cruel path

among the people i love with their left wings

who keeps on flapping bruising me inside

in the deepest circle of my core

Sweet Light, to you i pry..

release your arrow to me and wake me from this dream

through every nightmare within a nightmare

and let my soul see the shore of our home

in the deepest circle of my heart

Ave Lucia, te lucis ante terminum

take me to the Sanctum made of skulls and bones

and the wine of  tears and blood

for my Heaven’s entombed before my eyes

with your companion, in the deepest circle of Hell

And to you after the light is done,

shall i be free in the end of the road?

 

-November.2010-


The Raven Song

Hail, Raven! Sing me no more..

Sing me no more about the sun

Sing me no more about the rain

For my ears turns to deaf of your voice

Since you betrayed my trust with your ally

Have pity to my soul, dear Raven

For i wish to understand

The place where we stand

The home where we belong

In the darkest circle of hell

Where we collide in the end

Hail, Raven! Tell me no more..

Tell me no more about the heart of Orpheus

Tell me no more about the sword of Democles

For my mind turns to dumb of your words

Since you crashed my heart into dust

Have mercy to my heart, dear Raven

Give me the key to the exit

And i’ll be off for good

Leaving you behind

With your heartless soul

For i wish to be free.. from this infinite pain i have been suffering..

For i wish to be flee.. to the scarlett sky i have been dreaming..

-August.2010-