Beatrice

Teriak aku memanggil namanya, “Beatriiiiiice!”, agar ia turun dari loteng. Tapi sungguh dia sudah menjadi tuli. Demi Tuhan, ia tak mau turun. Atas nama kewarasan, ia tak mau turun!

Punggung ini lelah karena bekerja mencari uang, paling tidak turunlah kamu saat aku memanggilmu, Beatrice. Sudah sepatutnya kau membantuku.

“Untuk apa aku datang padamu, jika hanya kematianku lah yang kau inginkan dariku, Mathilda?”, sahutnya dari ujung atas tangga sana.

“Lagi-lagi kau bicara soal kematian, kau pikir aku ingin membunuhmu? Otakmu itu yang sudah tidak waras, kamu tahu itu? Aku tidak pernah mengerti dirimu.”

“Apa yang menurutmu waras dan tidak waras berbeda dengan sudut pandangku, Mathilda. Itu saja”, ujarnya dengan mata nanar. Lalu ia berbalik, hendak kembali ke kamarnya.

Amarahku membuncah, dan aku berteriak ke punggungnya, “Suatu hari kau akan mati membusuk di atas sana, kamu tahu itu Beatrice??!!” Dia hanya terdiam, tak bergeming. Punggungnya yang tak bernalar itu.

Berbalik dia menatapku tajam. Aku tahu dia pun marah. “Dan tahu kah kau Mathilda?”, akhirnya ia angkat bicara, “Saat kau tua dan mati, kau akan mati. Tapi saat aku mati, aku akan hidup. Aku akan hidup untuk seterusnya!”

Beatrice, dia memang tidak waras.

-April.2011-

Advertisements

About diesluminous

fascinated by the light, fell in love with the darkness View all posts by diesluminous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: