Mathilda

mathilda copy

Kehidupan bisa membuat seseorang gila. Suara-suara di bawah sana, bisingnya kehidupan. Suara dapur mengepul. Juga bunga-bunga yang bermekaran. Siap dipetik. Indah. Mematikan.

Adikku yang malang, Mathilda. Dia di bawah sana mengumpulkan bunga. Terjaga setiap harinya saat matahari menanjak naik. Mengumpulkan bunga. Menjadi sasaran saat si Tuan Tanah berang. Lalu pulang ke rumah malam hari. Selalu lelah. Pergi tidur untuk keesokan harinya bangun kembali, dan mengulang hal yang sama.

Kasihan. Dia bekerja hingga ia lupa siapa dirinya. Pertanyaan yang belum tuntas terjawab. Lalu mau apa dia dalam hidup? Aku bisa melihat dia berlari menuju kematiannya. Tangan-tangan lentik itu… Tangan-tangan itu akan membunuh dirinya sendiri… Perlahan namun pasti. Bunuh diri seperti Rimbaud, di usia ketika Mathieu Delarue terjaga. Sungguh pilu.

Mathilda, menolehlah sejenak. Berhentilah sejenak. Berhentilah sejenak dari waktu yang memacumu. Dan dari tangan-tangan yang mengendalikanmu. Demi langit dan isinya, kau berhak akan dirimu.

Sunyi sejenak. Lalu ia pun menoleh.

 

Maret. 2013

Background illustration by: http://arwenarts.deviantart.com/art/BEACH-BACKGROUND-STOCK-II-147354521

Advertisements

About diesluminous

fascinated by the light, fell in love with the darkness View all posts by diesluminous

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: