Category Archives: in domo

Mathilda

mathilda copy

Kehidupan bisa membuat seseorang gila. Suara-suara di bawah sana, bisingnya kehidupan. Suara dapur mengepul. Juga bunga-bunga yang bermekaran. Siap dipetik. Indah. Mematikan.

Adikku yang malang, Mathilda. Dia di bawah sana mengumpulkan bunga. Terjaga setiap harinya saat matahari menanjak naik. Mengumpulkan bunga. Menjadi sasaran saat si Tuan Tanah berang. Lalu pulang ke rumah malam hari. Selalu lelah. Pergi tidur untuk keesokan harinya bangun kembali, dan mengulang hal yang sama.

Kasihan. Dia bekerja hingga ia lupa siapa dirinya. Pertanyaan yang belum tuntas terjawab. Lalu mau apa dia dalam hidup? Aku bisa melihat dia berlari menuju kematiannya. Tangan-tangan lentik itu… Tangan-tangan itu akan membunuh dirinya sendiri… Perlahan namun pasti. Bunuh diri seperti Rimbaud, di usia ketika Mathieu Delarue terjaga. Sungguh pilu.

Mathilda, menolehlah sejenak. Berhentilah sejenak. Berhentilah sejenak dari waktu yang memacumu. Dan dari tangan-tangan yang mengendalikanmu. Demi langit dan isinya, kau berhak akan dirimu.

Sunyi sejenak. Lalu ia pun menoleh.

 

Maret. 2013

Background illustration by: http://arwenarts.deviantart.com/art/BEACH-BACKGROUND-STOCK-II-147354521

Advertisements

Eine Revolution, mein Schatz! Eine Revolution!

“PAPAAA…” rufe ich. Dann renne ich zum Keller, wo er arbeitet.

“Frida… Mein Schatz… Was ist passiert?” fragt er.

“Ich möchte diese Blumen nicht mehr sammeln!”

“Warum? Machst Du es nicht gern?” fragt er.

“Ja, Papa! Ich hasse es!”

“HAHAHA…” lacht er. “Bist Du böse auf Deinen Chef?”

“Ja, Papa “.

“HAHAHAHAHA….” Sein Lachen ist lauter geworden.

“Papa,.. Warum lachst Du?”

“Hahaha… Frida… Frida…” Sein Lachen ist jetzt leiser geworden.

“Es langweilt mich, dort zu arbeiten”, sage ich.

“Ja.. Ja.. Ich verstehe das”, sagt er.

“Was soll ich machen?” frage ich.

“Eine Revolution, mein Schatz! Eine Revolution!”  ruft er. “JOIN THE REVOLUTION!!!”

“Das ist richtig, Papa! Du hast recht!!” rufe ich auch.

“Ja, natürlich! Ich habe immer recht!” sagt er.

“Hurra! Ja, Papa!” freue ich mich jetzt.

Ich werde mich vorbereiten und werde den Garten verlassen.

17. 12. 2012


Ein Mann in den Dachboden

Ich denke, ein Licht sehe ich strahlend. Dann, folge ich das Licht in den Dachboden. Ein Mann sitzt auf dem Couch. Er liest. Ich gehe ins Zimmer rein. Dann, hort auf zu lesen, und sieht mich an.

“Hallo, wie heißen Sie?” frage ich.

“Ich heiße Einsiedler,” sagt er.

Einsiedler? Das ist komisch. Ich vermute, er ist ein Licht.

“Ach, bitte duzen wir uns,” sagt er, “Und du? Wie heißt du?”

“Mein Nachname ist Licht,” anworte ich.

“Dein Nachname ist Licht? Licht? …das ist sehr lustig.”

“Warum?”

“Ach,.. darum,” anwortet er mit einem Lacheln an seinem Gesicht.

“Was machst du hier auf dem Dachboden?” frage ich.

“Ich lese.”

“Ach, interessant,” sage ich. “Hmm.. es ist sehr komisch. Ich fühle mich, als dich ob schon lange kenne.”

“Ach, dank Liebenswert,” sagt er.

Es ist hell im Dachboden. Dann, der Himmel wendet sich rot zu.

“Ich soll zürück gehen, und soll arbeiten,” sagt er.

“Ich weiß. Du bist ein Adler im Himmel. Fliege fort. Fliege fort. Absolvier deinem Traum!”

“Aufwiedersehen,” sagt er.

Dann fliegt er. Ich bin allein im Dachboden jetzt. “Ach, ich muß meinen Traum jetzt absolvieren,” ich murmele mit einem Lächeln auf meinem Gesicht. Danach, gehe ich nach unten.

***

-July.2011-


Beatrice

Teriak aku memanggil namanya, “Beatriiiiiice!”, agar ia turun dari loteng. Tapi sungguh dia sudah menjadi tuli. Demi Tuhan, ia tak mau turun. Atas nama kewarasan, ia tak mau turun!

Punggung ini lelah karena bekerja mencari uang, paling tidak turunlah kamu saat aku memanggilmu, Beatrice. Sudah sepatutnya kau membantuku.

“Untuk apa aku datang padamu, jika hanya kematianku lah yang kau inginkan dariku, Mathilda?”, sahutnya dari ujung atas tangga sana.

“Lagi-lagi kau bicara soal kematian, kau pikir aku ingin membunuhmu? Otakmu itu yang sudah tidak waras, kamu tahu itu? Aku tidak pernah mengerti dirimu.”

“Apa yang menurutmu waras dan tidak waras berbeda dengan sudut pandangku, Mathilda. Itu saja”, ujarnya dengan mata nanar. Lalu ia berbalik, hendak kembali ke kamarnya.

Amarahku membuncah, dan aku berteriak ke punggungnya, “Suatu hari kau akan mati membusuk di atas sana, kamu tahu itu Beatrice??!!” Dia hanya terdiam, tak bergeming. Punggungnya yang tak bernalar itu.

Berbalik dia menatapku tajam. Aku tahu dia pun marah. “Dan tahu kah kau Mathilda?”, akhirnya ia angkat bicara, “Saat kau tua dan mati, kau akan mati. Tapi saat aku mati, aku akan hidup. Aku akan hidup untuk seterusnya!”

Beatrice, dia memang tidak waras.

-April.2011-