Category Archives: In hell

Kumppani Helvetissä

Kumppani_Helvetissä_150pxA Companion in Hell


Virgil

I’m peeking to the next circle, there is fire everywhere.

“What is this place?” I murmured.

“Hell”, he said.

“I don’t believe in hell”, I said. “Heaven and hell are just a matter of conception. I don’t believe in such things, not anymore”.

“Yes, you should”, he said. “You are in hell”.

“So this is hell?” I questioned him. “If hell is on earth, then what is the afterlife?”

He is quiet, such a stupid man. I stepped forward.

“Where are you going?” he asked me.

“You think? I’m going forward”, I answered.

“Don’t”, he said.

“Why?”

“Because you are mine”.

“Who said that I’m yours? I’m a free soul”.

“No, you’re not. You belong to me”.

“Bullshit,… I don’t belong to you, Virgil. Not anymore”.

“Don’t do this to me!”

“Do what?”

“Stay here with me and accompany me. This is our home”.

“No, it isn’t. This is your home, not mine”.

There was silence.

“Virgil, you suppose to take me to that fake paradise. But as far as I can see, this is only a vicious circle. I see no heaven. And this isn’t hell either. You just brought anyone to get caught in your vicious circle to accompany you, as many as you can get. That’s just simply what you are”.

“So you’re gonna go find another Virgil to replace me?”

“No. I need no Virgil. I have myself… And my Lord…”

“So, you’re gonna leave me here?”

“You could have leave this place yourself. But you just won’t do that. It’s just simply you”.

“And you’re gonna leave me here…”

“Yeah, because it’s just simply me,” I said. “Bye.. bye.. Virgil,.. I’m quite sure I still gonna hear you sound. It’s just who you are. But at that time,.. it’ll be being-qua-being”.

He is silent. And I finally set myself free.

-May.2012-


Sang Pertapa

Bayangan dalam cermin itu bukan aku. Tapi aku melihat diriku dalam dirinya. Tangan besarnya ingin meraihku. Aku menyambutnya dari balik kaca.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“Sang Pertapa,” sahutnya.

“Bisakah aku meraihmu?”

“Yang harus kau lakukan hanyalah memecahkan cermin ini, Sayang.”

Ragu sejenak. Mataku menatap mata hijaunya. Ia tersenyum. Kemudian aku mengayunkan kepalan tanganku ke arah cermin. Cermin pecah. Darah berceceran. Ia kembali tersenyum. Perlahan ia melangkah keluar. Kaki telanjangnya berjalan di atas pecahan kaca, dan ia meraih tanganku. Mengecap goresan luka yang mengalirkan darah segar.

“Bukankah darah ini begitu indah?” gumamnya.

Ia menjilat dan menghisap luka itu, menikmati sakit yang menyengat tanganku. Aku meringis, tapi membiarkan ia melakukan itu. Aku menginginkannya. Aku tahu aku menginginkan dia. Mata itu, wajah itu, rambut itu, dan tangan besar itu, adalah sosok yang bersemayam di dalam pikiranku. Bertahun-tahun lamanya.

Malam itu juga aku bercinta dengan jiwanya. Seperti sukma yang telah lama saling merindukan. Menantang kenyataan yang kemudian menampar. Lupa akan takdir yang menyertai, bahwa surga itu datang membawa neraka bersamanya.

Ketika fajar datang kami belum juga mereda. Mengurai lilitan benang merah yang membelit sukma. Menunggu siang datang untuk mengusaikan kami. Dan saat matahari itu beranjak naik, dia pun kupaksa pergi. Meninggalkan jejak merah darah yang berceceran di lantai. Kepada cermin pecah itu ia tak akan kembali lagi. Kenyataan telah memeluknya pulang. Dan sejak ia melangkahkan kaki telanjangnya ke arahku, saat itulah aku sedang melepasnya pergi.

***

-August.2011-