Tag Archives: darah

Sang Pertapa

Bayangan dalam cermin itu bukan aku. Tapi aku melihat diriku dalam dirinya. Tangan besarnya ingin meraihku. Aku menyambutnya dari balik kaca.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“Sang Pertapa,” sahutnya.

“Bisakah aku meraihmu?”

“Yang harus kau lakukan hanyalah memecahkan cermin ini, Sayang.”

Ragu sejenak. Mataku menatap mata hijaunya. Ia tersenyum. Kemudian aku mengayunkan kepalan tanganku ke arah cermin. Cermin pecah. Darah berceceran. Ia kembali tersenyum. Perlahan ia melangkah keluar. Kaki telanjangnya berjalan di atas pecahan kaca, dan ia meraih tanganku. Mengecap goresan luka yang mengalirkan darah segar.

“Bukankah darah ini begitu indah?” gumamnya.

Ia menjilat dan menghisap luka itu, menikmati sakit yang menyengat tanganku. Aku meringis, tapi membiarkan ia melakukan itu. Aku menginginkannya. Aku tahu aku menginginkan dia. Mata itu, wajah itu, rambut itu, dan tangan besar itu, adalah sosok yang bersemayam di dalam pikiranku. Bertahun-tahun lamanya.

Malam itu juga aku bercinta dengan jiwanya. Seperti sukma yang telah lama saling merindukan. Menantang kenyataan yang kemudian menampar. Lupa akan takdir yang menyertai, bahwa surga itu datang membawa neraka bersamanya.

Ketika fajar datang kami belum juga mereda. Mengurai lilitan benang merah yang membelit sukma. Menunggu siang datang untuk mengusaikan kami. Dan saat matahari itu beranjak naik, dia pun kupaksa pergi. Meninggalkan jejak merah darah yang berceceran di lantai. Kepada cermin pecah itu ia tak akan kembali lagi. Kenyataan telah memeluknya pulang. Dan sejak ia melangkahkan kaki telanjangnya ke arahku, saat itulah aku sedang melepasnya pergi.

***

-August.2011-

Advertisements

Jiwa Tanpa Nalar

Perlahan darahku tersucikan dari bisamu

Waktu kutapakkan kaki di surga itu

Kepada Matahari kujejakkan jiwaku

Tatkala pendar gelapmu mengabur dariku

 

Seperti tak bermata aku menatap nanar

Dalam gelapnya cahaya hatiku tersasar

Terus ku menyusuri jejak Sang Nasar

Bagai sebuah jiwa tanpa nalar

 

Sudah kutambatkan hidup padamu yang terlarang

Dan biarlah kejatuhan itu kembali berulang

Karena kepadamu ingin ku segera pulang

Meski akhirnya akal sehat harus kubuang

 

-March.2011-


Sang Gagak

Di tengah malam, saat segalanya serba tak pasti. Aku mendengar suara burung gagak berdendang merdu. Terkesiap, ku ikuti arah suara itu di bawah sinaran malam yang temaram. Ia bertengger disana, masih tetap berdendang. Saat ku datang ia menoleh padaku. Memandangiku dengan mata hijaunya yang teduh itu. Ku angkat bicaraku, memberanikan diri menyapanya.
“Halo Gagak, sedang apa kau disana?”
“Aku bernyanyi bagi mereka yang mendengarkan”, ia menjawab.
“Nyanyian apakah yang kau dendangkan, Wahai Gagak?”
“Ini adalah nyanyian bagi mereka yang tidak lagi egois dan tidak hanya memikirkan diri sendiri”.
Aku terhenyak. Pipiku merah, tertampar keras oleh perkataan Sang Gagak. Hening sejenak.
“Lalu bagaimanakah caranya menjadi tidak egois, tanpa jiwa ini menjadi terbunuh karenanya?”, pelan-pelan aku mengangkat suaraku kembali.
“Mengenai hal itu, harus kau pikirkan sendiri jalan keluarnya”, ia menjawab.
Aku termenung. Kepalaku serasa terhuyung-huyung. Pusing luar biasa. Pandanganku mengabur seolah-olah aku sedang berputar-putar dalam suatu kincir. Dalam bising aku mendengar Sang Gagak kembali bersenandung.
“Hanya bagi mereka yang kebenarannya sama, dengan kebenaranku”. Itu katanya.
Seketika segalanya kembali menjadi jelas. Aku berhenti berputar. Dan Sang Gagak berdiri di hadapanku. Lalu ia menyematkan sebuah cincin di jariku. Cincin perak polos, sama persis dengan yang melingkar di jarinya. Di jari manis yang sama, di tangan yang sama. Aku tahu ini adalah waktunya bagiku untuk pergi.
“Di sebelah sana sangat gelap,” ucapku padanya. “Punyakah kau sedikit cahaya untukku?”, aku bertanya padanya sambil mengeluarkan sebuah lilin dari saku. Ku sodorkan padanya.
“Tentu saja”, ia menjawab. Ia lalu meniup lilinku dan api pun menyala.
“Pergilah kekasihku,” ia berucap. “Tempuhlah jalanamu dan penuhilah takdirmu. Aku akan ada disini, di langit yang sama yang menaungimu”.
Ia lalu mengepakkan sayapnya hitamnya yang lebar dan terbang tinggi, menuju langit yang kelam di atas sana. Nyanyiannya masih terus menggema ke rongga telingaku, menerobos masuk ke dalam jantungku. Mengendap disana. Bercampur menjadi darah yang mengalir di sekujur tubuhku. Sang pujangga telah menorehkan puisinya dalam dagingku. Dan bersamanya aku pun melenggang.
***

-July.2010-